Semangat Belajar Adik-adik Ku!!!

Menjadi Pohon Terlebih Dahulu Untuk Bisa Menghasilkan Buah Bagi Orang Lain

Sebulan yang lalu aku mulai mengajar di Cinta Baca, temanku yang lainnya juga telah mengajar di Cinta Baca terlebih dahulu. Malam pertama ku di Cinta Baca di sibuk kan dengan perkenalan kepada anak-anak. Sedikit canggung rasanya pada saat itu namun aku bersyukur bahwa mereka menerima ku dengan baik. Bahkan ada beberapa anak yang mencoba mengobrol denganku. Mereka adalah anak-anak yang manis dan di hari pertama ku mengajar di Cinta Baca berjalan cukup mulus, hanya saja harus aku akui anak-anak tidak bisa diam. Mereka selalu berlari kesana kemari, mereka berteriak, dan lebih banyak ingin bermain dari pada belajar. Mungkin, itu adalah waktu dimana mereka bertemu dengan teman dan dapat bermain bersama karena tidak semua anak bersekolah di sekolah yang sama. Aku bahkan hampir bisa merekam suara mereka di kepalaku karena hampir setiap saat mereka berteriak.

Anak-anak Sedang Berkumpul di Ruang Belajar
Kak Nela adalah ketua di Cinta Baca, bisa di bilang pembimbing sekaligus mentor di sana. Aku salut dengan kak Nela karena hatinya untuk anak-anak di Cinta Baca begitu tulus. Aku bahkan tidak bisa bayangkan seandainya aku yang ada di sana menggantikan Kak Nela apakah aku sanggup? Meng-handle anak-anak sebanyak itu? Aku mendapatkan jadwal mengajar di Hari Selasa malam, yang mana di waktu aku mengajar itu khusus malam belajar Bahasa inggris. Harus aku akui anak-anak ini butuh ekstra belajar untuk bisa mengerti pelajaran ini.
Banyak anak yang tidak begitu menyukai Bahasa inggris, mungkin karena Bahasa inggris adalah kategori pelajaran yang sulit terlebih dengan Bahasanya yang harus di artikan ke dalam Bahasa Indonesia. Pelajaran Bahasa inggris pertama yang aku berikan kepada mereka adalah bagaimana cara penulisan dan pengucapanan jika ingin memperkenalkan diri. Gampang sekali, aku hanya memberikan beberapa soal saja seperti : ‘what is your name? where do you live? How old are you?’ dan yang terakhir, ‘where do you school?’ dan hampir semua mereka bingun dan yang membuat aku tertawa geli adalah saat aku melihat jawaban dari mereka.  

Aku Berikan Gambar Senyuman Sebagai Pengganti Nilai
Hasil Dari Pelajaran Bahasa Inggris Kami di Kelas Pertama ku

Di malam berikutnya aku datang lagi, aku bahkan belum memasuki pagar rumah di tapi anak-anak sudah meneriaki namaku dan saat aku turun dari motorku mereka mulai menghampiri ku, memeluk ku dan menyalami tanganku di hari ke dua ku di Cinta Baca. Sungguh manis sekali, hal yang telah membuat hatiku jatuh cinta kepada mereka.
Ruang Kelas Saat Sedang Belajar
Anak-anak Yang Belajar di Cinta Baca
                            
Sedang Belajar                  

Cinta Baca adalah tempat dimana anak-anak bisa mendapatkan les tambahan di luar dari jam sekolah mereka. Di sini mereka diajari banyak hal, mulai dari pelajaran yang mereka tidak mengerti sampai bagaimana cara menghormati yang lebih tua dan menghargai satu dengan yang lainnya. Visi Misi Cinta Baca sendiri adalah meningkatkan kesadaran kepada anak-anak untuk mencintai buku. Cinta Baca sendiri di Pekanbaru telah berdiri selama 5 tahun yang mana telah mempunyai pos-pos baca seperti di Meranti Rumbai, di Panam dan salah satunya di tempat aku sedang mengajar yaitu di Jalan Melur. Para pengajar di Cinta Baca adalah para sukarelawan yang artinya tidak di gaji tidak juga ada paksaan. Melainkan tergerak sendiri untuk mengajar di sana.
Aku sendiri mengenal Cinta Baca dari komunitasku namun pada saat itu aku belum dapat langsung bergabung karena kesibukanku yang luar biasa menyita waktuku dan aku harus memikirkannya berkali-kali apakah ini yang Tuhan mau aku lakukan. Karena aku tidak ingin mengerjakan sesuatu hanya berlandaskan keinginan dagingku saja. Dalam arti yang hari ini begitu semangat datang lalu hilang berjalannya waktu. Menurutku ini adalah sesuatu yang sangat penting, di butuhkan komitmen juga. Karena kita memberikan ilmu sekaligus menjadi contoh bagi anak-anak yang kita ajari. Cukup lama bagiku untuk memberikan diriku sebagai salah satu pengajar di Cinta Baca hingga akhirnya aku mengatakan, ‘Ya. Aku mau!’
Ini bukanlah kali pertamaku mengajar, aku pernah mengajar sebelumnya sebagai tutoring di Bimbingan Belajar kumon dan juga pernah menjadi pengajar sukarelawan di rumah Singgah yang kegiatanku pada waktu itu sama dengan yang aku lakukan di Cinta Baca pada saat ini hanya saja pada waktu di Rumah Singgah aku mengajar di alam bebas sedangkan di Cinta Baca aku mengajar di sebuah rumah yang hanya terdiri dari 1 ruangan saja. Bagiku melakukan hal ini mendapatkan kepuasan tersendiri. Ada sesuatu yang berguna setidaknya yang bisa aku lakukan. Aku melihat begitu banyak sekali anak-anak yang mulai surut keinginannya untuk belajar. Banyak anak yang terikut dengan trend seperti lebih ingin hang-out bersama teman di pinggir jalan, hura-hura dengan motor, main handphone ketimbang baca buku, dan bahkan bolos saat di jam pelajaran. Itu semua tidak salah hanya saja jika yang melakukannya sampai meninggalkan tugas mereka sebagai seorang pelajar dan menyalah gunakan transportasi, gadgets, kendaraan yang telah mereka miliki maka itu jelas salah. Tidak sedikit juga para orang tua yang kurang memberi perhatian mereka kepada anaknya. Para orang tua tidak lagi menanyakan PR anaknya saat mereka pulang dari sekolah, tidak ada lagi pujian dari orang tua saat anak berprestasi dan tidak adanya dorongan yang kuat dari para orang tua kepada anaknya untuk tetap semangat dalam belajar. Aku tidak bisa menyalahkan hal itu karena jaman telah berubah, orang tua dan anak sangat gampang terhubung karena sekarang serba canggih, tinggal tekan saja nomor yang ingin kita hubungi maka kita bisa saling terhubung atau tinggal tanya saja Om Geogle maka informasi apapun yang kita inginkan akan kita dapatkan dengan mudah. Namun tetap saja sentuhan secara langsung itu lebih berdampak ketimbang memberikan perhatian melalui telepon.
Anak juga membutuhkan sosok seorang guru di rumah. Guru yang mengajari mereka saat mereka mengalami kesulitan dalam pelajaran mereka, guru yang dengan sabar mengajari mereka saat mereka berulang kali menanyakan pelajaran yang sama yang menurut mereka itu sulit sekali, guru yang memberikan pujian saat mereka mendapatkan nilai bagus bahkan pujian saat mereka tidak mendapatkan nilai yang bagus sekalipun, guru yang memeluk mereka saat mereka mulai menyerah dengan usaha mereka karena mereka pikir sudah cukup sampai disini, guru yang selalu memotivasi mereka untuk terus berjuang mengejar mimpi mereka. Inilah tugas guru yang mereka butuhkan saat mereka berada di rumah mereka.


Aku sering melihat anak-anak berada di pinggiran jalan, aku tahu apa yang mereka sedang lakukan. Ada sebagian yang berperan sebagai pengemis, ada yang berjualan koran, ada yang mengelap-lap kaca mobil dan ada juga yang mengedarkan brosur. Itu semua mereka lakukan karena mereka tidak memiliki cukup biaya untuk sekolah. Ada anak yang tidak se-beruntung anak yang lainnya yang dapat bersekolah di sekolah favorit, bahkan mendapatkan gadget keluaran terbaru dan memiliki transportasi sendiri namun justru tidak memiliki semangat/niat untuk bersekolah/belajar. Dan anak yang serba berkekurangan memiliki se-gudang cita-cita, namun sayang sekali banyak dari anak malang tersebut harus mengubur impian mereka dalam-dalam karena mereka tidak dapat bersekolah. Sama halnya dengan anak-anak yang aku ajari di Cinta Baca aku ingin memotivasi mereka bahwa mereka adalah salah satu anak yang beruntung itu. Karena mereka masih dapat bersekolah, tidak apa jika mereka harus berjalan kaki karena aku pun dulu sering berjalan kaki saat aku pergi ke sekolah. Aku pernah memiliki kendaraan namun harus di pakai oleh Ayahku karena motornya harus di jual untuk membantu keuangan kami. Aku menempuh perjalanan yang tidak dekat, setiap harinya bahkan saat aku sedang duduk di bangku kelas 11 aku sering alpa (begitulah kami menyebutnya saat kami absent sekolah) karena aku tidak dapat pergi ke sekolah. Jarak dari rumahku ke sekolah sekitar 10 sampai 12 km. Setiap paginya aku harus bangun lebih awal agar aku dapat mencari tumpangan, mengetuk setiap pintu yang aku tahu kalau mereka akan pergi searah dengan ku dan bertanya ke setiap rumah kalua kalau mereka bisa memberikan ku tumpangan ke sekolah. Sering sekali aku tidak mendapatkan tumpangan, teman sering sekali menghindari ku saat aku sudah menunggu di simpang jalan ke arah sekolahku.
Aku pernah merasa ingin menyerah dan berhenti bersekolah karena keadaanku pada saat itu, dan lagi keuangan kami yang tidak cukup. Aku memiliki 3 orang Adik yang juga sedang bersekolah dan 1 Abang. Aku mulai tidak bersemangat saat aku merasa bahwa aku telah kehilangan segalanya. Aku juga tidak ingin melihat Orang Tua ku bekerja terlalu keras untuk membiayai sekolah kami berlima sekaligus memikirkan makanan kami. Aku bersyukur bahwa aku memiliki seorang Ibu yang luar biasa. Dia telah banyak berkorban untuk kami bahkan sampai akhir hayatnya dia terus memperjuangkan sekolah kami. Hal itulah yang membuatku tetap melanjutkan perjalananku dan tidak berhenti pada saat itu juga.
Kebanggaan bagi para orang tua adalah melihat anaknya sukses dan kebahagiaan bagiku adalah melihat orang tuaku bangga kepadaku. Aku menyadari bahwa aku bukanlah satu-satunya orang yang mengalami hal itu, untuk itulah aku ingin membagikan kisahku bagaimana aku berjuang untuk tetap bisa lulus dari SMK walau aku tidak dapat melanjut ke perguruan tinggi. Setidaknya aku telah memiliki modal yaitu kemauan yang tinggi untuk belajar. Sarjana bukanlah satu-satunya patokan untuk kita bisa sukses melainkan bagaimana kita melihat dan menangkap setiap peluang yang ada. Sikap kita adalah yang utama dalam menentukan langkah apa yang selanjutnya akan kita ambil, banyak teman bahkan aku sendiri mengalaminya ketika aku lulus dari SMK aku begitu ingin melanjutkan ke perguruan tinggi karena menurutku ketika aku memiliki gelar sarjana maka masa depanku akan cerah dan aku akan dengan gampang mendapatkan pekerjaan dimanapun yang aku inginkan. Ternyata salah, aku telah membuktikannya. Aku tidak  mengatakan disini bahwa kuliah itu tidaklah penting aku ingin menyampaikan bagi sebagian orang yang tidak mampu untuk melanjut janganlah memaksakan diri, coba lihat peluang lain dan kerjakan apa yang bisa kita kerjakan. Percayalah bahwa kesempatan itu selalu ada untuk mereka yang tidak pernah berhenti berharap dan yang tidak pernah menyerah.
Anak-anak di Cinta Baca juga berasal dari keluarga yang berbeda, ada yang perekonomian keluargnya baik namun ada juga yang pas-pasan. Mungkin ada sebagian anak yang tidak mendapatkan perhatian lebih dari orang tua mereka karena mungkin orang tua sudah capek bekerja sehingga tidak memiliki waktu untuk memperhatikan perkembangan belajar anaknya. Untuk itulah kami ada menjadi motivator bahkan orang tua ke dua bagi mereka yang siap memberikan perhatian kepada mereka.
Aku percaya ketika kita memperhatikan anak-anak yang sebagai penerus maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar yang memiliki anak-anak yang berkompeten. Yang siap tampil di ajang penghargaan dan generasi yang penuh dengan ide-ide hebat mereka. Itu semua tidaklah mustahil asalkan kita mau membantu mereka mewujudkan mimpi mereka.
Apa yang kami lakukan di Cinta Baca memang terlihat seperti kecil dan bagi sebagian orang mungkin akan berpikir ‘tidak akan mengubah apapun’ dalam arti biasa saja tapi kami mempunyai mimpi bahwa kelak anak-anak di Cinta Baca akan lahir sebagai pemimpin, pengusaha, wirausahawan yang membuka lapangan pekerjaan bagi para pencari kerja dan membuka peluang bagi mereka yang memiki talenta bahkan tidak menutup kemungkinan mereka bisa menjadi pemimpin di Negri ini dikemudian hari.
Aku merasa bahwa Tuhan sedang bekerja di dalam hidupku dengan semua yang telah terjadi. Tuhan memang menggunakan segala sesuatu dan semua orang untuk kemuliaan Nama-Nya yang lebih besar. Bahkan ketika tampaknya kita sedang tidak di sukai, dan Tuhan mengatur segalanya untuk melawan kita, itu adalah bagian dari perlindungan-Nya yang penuh kasih. Aku yang begitu ingin menjadi seorang penulis bahkan aku ingin menjadikan ini menjadi sebuah karir. Aku ingin melalui tulisanku orang-orang bisa terinspirasi. Aku ingin melalui ceritaku sendiri orang-orang bisa kuat dan tidak menyerah. Aku tahu menulis bukanlah hal yang sulit namun tidak juga hal yang mudah. Karena aku harus memikirkan what do people get by reading this? Aku pernah mendapatkan pesan langsung dari mentorku di salah satu komunitasku di gereja ‘dia juga seorang teman’ dan aku ingat dia berkata seperti ini, ‘Eka. Untuk apa kamu menuliskan hal itu panjang lebar (seperti berceritadi media social, membagikan cerita inspirasi atau kata-kata motivasi) itu tidak ada gunanya! Lebih baik kau praktekkan itu untuk dirimu sendiri!’ tanpa aku menambahinya. Jujur saat membaca kalimat itu aku mundur dan perlahan aku mulai berhenti menulis. Aku menyadari bahwa tidak setiap apa yang kita tulis hal itu bisa menyenangkan bagi orang lain. Tapi aku tahu bahwa akan selalu ada orang-orang dimana mereka bahwa hal itu tidaklah penting tapi bagi sebagian orang mungkin sebagian kecil saja hal itu bisa menolong mereka. Memberikan mereka inspirasi dan itulah yang telah membangkitakan semangatku untuk menulis kembali. Di sela-sela waktu ku yang memang sibuk aku sering menulis dan ini telah menjadi kebiasaan yang ngga bisa aku hindari.
Tuhan memegang kendali, dan segala sesuatu memang terjadi untuk, ‘yang terbaik’. Hanya saja tidak mudah untuk melihat, ‘yang terbaik’ sebelum itu terjadi.
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ku ini, aku berharap ini dapat menginspirasi dan mengajak pembaca untuk memiliki empati kepada anak-anak yang ada di sekitar kita. ‘Tidak perlu melakukan hal yang spekatkular untuk melakukan perubahan, cukup lakukan hal yang kecil dengan sungguh-sungguh sampai hal kecil tersebut telah menjadi spektakular.’
Salam, Eka


Komentar

Postingan populer dari blog ini

He is AMAZING

Apapun yang terjadi di dalam hidupku tetap ku berkata Tuhan Yesus baik

Cinta itu sebuah kata, sebuah rasa yang sa